Pandangan Adat tentang Polemik Permainan LIO (Adiau / Arwah) Bagian 2

Perspektif pandangan Adat secara umum :

Melihat dari sisi negatif bisa merusak Moral dan Etika, Norma-norma Agama, pelanggaran Hukum Adat, tatanan keluarga, rumah tangga dan kehidupan bermasyarakat. Terlebih bertentangan dengan Hukum Positif yang berlaku di NKRI.

Namun secara keseluruhan, kearifan lokal yang selalu dipegang teguh masyarakat adat sangat tersirat dalam proses acara Ritual tersebut yang mana dalam prosesi Kahiangannya menggambarkan penjelasan tentang perbedaan - perbedaan prilaku dan perbuatan manusia selama hidupnya. Pemahaman, keyakinan dan kepercayaan yang mengajarkan manusia mampu memilah mana yang baik dengan yang buruk dan mana yang benar dengan mana yang salah. Dari perkataan dan perbuatan akan dipertanggung jawabkan oleh manusia baik di dunia maupun akhirat.

Partisipasi dan kerjasama, saling menghargai dan menghormati, saling memberi dan menerima merupakan kearifan budaya lokal yang secara garis besar sangat jelas terlihat pada seluruh rangkaian acara mulai dari awal sampai berakhir. Sukung Bantu Hinrai Tamir, Raruba Raruyan Panguma Pangumuh, Tantulu Rariu merupakan pemberian semangat, ketabahan, kesabaran, kerelaan dan keikhlasan, memberikan kontribusi saran pemikiran perkataan, moril maupun materil kepada keluarga pelaksana acara kematian tersebut.  

Di satu sisi permainan LIO wajib dilaksanakan sebagai kelengkapan Kahiangan, di sisi lainnya hukum positif NKRI memandang itu suatu pelanggaran hukum karena berbau judi. Tatanan dan tindakan yang tegas dalam aturan adat memungkinkan tidak adanya pelanggaran adat yang sengaja dibuat-buat mengatasnamakan adat.