Dilema Overturisme dan Budaya Selfie: Etika Berwisata (Tamat)

Pariwisata pada masa kini menjadi paradoks yang menguntungkan dan merugikan. Semakin baiknya taraf ekonomi, murahnya tiket pesawat dan penginapan, serta banjirnya promosi pariwisata, membuat kunjungan wisata ke penjuru dunia meningkat tajam. Bahkan tempat terpencil pun, selama dapat diakses dan dipromosikan online, tetap akan ada turis yang berkunjung. Untuk kota besar yang megapolitan mungkin saja tidak ada riak yang berarti karena sudah terbiasa menyambut beragam wisatawan. Bagaimana dengan kota atau desa yang harmoni sosialnya begitu teratur menghadapi banjirnya wisatawan? Seperti apakah perilaku berwisata yang tepat, tanpa harus melukai kenyamanan masyarakat lokal.

Berwisata itu seperti bertamu, kita tak bisa serta-merta datang membawa kebiasaan dan perilaku kita di rumah, kita datang karena ingin menikmati atraksi atau pengalaman, yang tentu saja akan tercemar bila kita tidak menghormati tuan rumah.

Berikut saya uraikan beberapa hal yang seharusnya dilakukan sebelum dan ketika berkunjung ke tempat wisata:

 

1.Pelajari tujuan wisata anda

Ketika anda melihat gambar di instagram, atau brosur wisata, hal pertama yang anda lakukan tentu bertanya atau mencari informasi lebih jauh tentang jarak, biaya transportasi dan penginapan serta pemandunya. Cobalah mempelajari lebih jauh tentang budaya, kebiasaan dan perilaku masyarakat di tempat itu. Apa yang boleh, apa yang tidak boleh. Apa yang mereka anggap suci dan mereka hormati.

 

2.Jangan menyampah

Ini aturan nomor satu di semua tempat wisata dan bisa anda dapati plang dan tanda peringatan di mana-mana. Sekalipun anda berada di tempat umum di mana terdapat petugas kebersihannya maupun di hutan dan pegunungan, jangan meninggalkan sampah terutama sampah plastik dan yang sampah tak terurai lainnya.

 

3.Jangan menyentuh, menginjak, mencoret atau mengambil benda di tempat wisata

Sering terjadi saking asyiknya berfoto, pengunjung menjatuhkan atau mematahkankoleksi barang di museum atau tempat umum. Sering juga terjadi aksi vandalisme dengan mencoret-coret tempat umum dengan nama atau tulisan lainnya. Terhadap kebun atau taman, carilah jalur yang benar yang sudah disediakan untuk berfoto dan jangan masuk ke tempat yang dilarang untuk berdiri, duduk atau berbaring sekalipun spotnya ideal. Mengambil benda dari tempat wisata bukan saja termasuk pencurian, namun juga merusak keindahan tempat wisata.

 

4.Perhatikan kenyamanan orang di sekitar

Berwisata memang merupakan upaya melepas beban pikiran dan menikmati keindahan, tapi ingat, bukan anda saja yang ingin mengalaminya. Perhatikan perilaku anda apakah membuat orang lain merasa tidak nyaman atau terganggu. Berempatilah. Anda bisa melihat dari ekspresi dan komentar orang di sekitar anda. Nyaman bagi anda belum tentu sama bagi orang lain.

 

5.Memberi dan timbal balik

Kadang ketika kita berwisata kita cuma memikirkan kesenangan dan kepuasan kita. Setelah puas kita pun pulang tanpa memikirkan hal lain. Cobalah memikirkannya dengan cara berbeda, apa yang bisa kulakukan untuk destinasi wisata ini dan masyarakatnya? Apa yang kukembalikan sebagai ucapan terimakasihku? Misalnya setelah hiking di hutan anda bisa mendukung penanaman kembali, mengumpulkan sampah dan menggalang donasi untuk masyarakat sekitar bila diperlukan. Ada banyak bentuk tindakan yang anda lakukan.

 

Akhirnya seperti pepatah yang sering kita dengar: “Bila anda bukan bagian dari solusi, anda adalah bagian dari masalah.” Jadi, apa anda turis yang membawa kebaikan, atau masalah? Semua bergantung pada perilaku anda.