Dilema Overturisme dan Budaya Selfie: Banjir Turis dan Efeknya (Bagian 2)

Problematika Banjir Turis di Seluruh Dunia

Mungkin anda masih ingat peristiwa yang terjadi di penghujung tahun 2015 lalu, sebuah kebun bunga Amaryliis milik warga di Gunung Kidul rusak terinjak-injak para pengunjung. Apa sebab? Ternyata kebun bunga yang lagi musim mekarnya di awal musim penghujan menjadi latar yang indah untuk selfie, didatangi ribuan orang yang saking asyiknya berfoto menginjak-injak bunga yang sedang mekar-mekarnya itu. Alhasil, dalam beberapa hari saja keindahan itu hancur. Atau kejadian yang serupa akhir Maret 2019 ini, lautan bunga Poppies liar yang tumbuh di Walker Canyon, California, Amerika Serikat diserbu 66.000 pengunjung yang bukan saja menyebabkan kekacauan tapi juga merusak hamparan bunga sehingga harus ditutup untuk pengunjung. Peristiwa lain yang tak kalah hebohnya, viralnya foto pendaki gunung Everest yang antri mencapai puncak Everest di zona kematian, daerah yang saking tipis oksigennya pendaki harus mengenakan tabung oksigen dan harus menyelesaikan pendakian dalam waktu singkat atau terancam mati kehabisan oksigen dll. Tapi mereka tak bisa bergegas, karena antri panjang dan macet baik ketika naik dan turun gunung. Dikabarkan izin untuk mendaki gunung Everest tahun ini berjumlah 381 orang, jumlah yang terlalu banyak untuk satu kali masa mendaki. Ditambah dengan pemandu dan Sherpa (suku asli kaki gunung Himalaya), jumlah pendaki membengkak menjadi 820 orang. Akhirnya jatuh korban 11 orang. Pemerintah Nepal pun disalahkan karena memberi izin kepada terlalu banyak pendaki, terutama kepada mereka yang tak punya pengalaman sama sekali. Pendaki tak berpengalaman yang tergiur promosi agen wisata, mengira mendaki gunung Everest sangat mudah, bergantung pada pemandu dan Sherpa demi selfie dan pencapaian pribadi tak mempersiapkan diri dan mengkalkulasi resiko yang akan dihadapi. Akibatnya pendakian gunung Everest menjadi macet dan terhambat pendaki tak berpengalaman yang lambat dan kelelahan, membuat antrian panjang yang membahayakan jiwa. Berita lain, di Jepang, di mana Pemerintahnya membuka ruang sebesar-besarnya untuk wisatawan, justru pengelola pariwisata dibuat pusing oleh ulah turis. Dalam video yang viral beberapa waktu ini, seorang pemilik restoran mengusir turis yang makan di restorannya, menyebut perilaku turis tersebut “memuakkan” dan mengatakan mereka tidak perlu membayar. Beberapa pengelola restoran Jepang secara halus menolak wisatawan yang datang bergerombol dengan alasan tutup atau makanan sudah habis, karena perilaku pengunjung yang liar. Beberapa kuil di Jepang sudah menolak kunjungan wisatawan karena mengganggu kekhusyukan beribadah dan tidak menghormati tempat suci. Hutan Bambu yang terkenal di Arashiyama, misalnya, tercemar oleh ukiran-ukiran nama di pohon bambunya akibat ulah para turis.Tempat pelelangan ikan terkenal di Jepang, Tsukiji, dibanjiri turis yang ingin menonton aktivitas lelang membuat pembeli Jepang merasa risih. Bagi masyarakat Jepang yang damai dan tertib, kehadiran turis justru mengoyak kedamaian yang mereka jaga sedemikian rupa.

 

Problem Kerusakan Lingkungan karena Turisme di Barito Timur

Bagaimana dengan Kabupaten Barito Timur? Masih ingat promosi cagar wisata Taman Hutan Raya (Tahura) Magaram di desa Siong tahun 2016-2017 lalu. Sebelum dipromosikan dan disediakan fasilitas jembatan kayu, Tahura tersebut benar-benar alami dan memiliki keanekaragaman spesies anggrek yang khas, terutama Anggrek Hitam. Tidak lama, selang berapa bulan setelahnya, penulis datang beberapa kali ke sana menemui sampah plastik berhamburan di jalan setapak dan bukan itu saja, anggrek yang tadinya tumbuh liar di sepanjang jalan setapak sudah raib. Ini tentu saja memilukan, karena pesona Tahura Magaram  bukan saja keaslian hutannya tapi juga keanekaragaman tumbuhan di dalamnya. Riam Kendong dengan lokasinya yang sulit dijangkau di Kecamatan Raren Batuah, sekalipun akses lokasi begitu menantang, masih bisa dikunjungi wisatawan. Namun sayangnya di lokasi seterpencil itu pun dapat ditemukan sampah plastik berceceran di sepanjang jalur jalan setapak menuju air terjun menambah kerusakan lokasi wisata yang masih alami itu.

Turisme bukan satu-satunya yang patut disalahkan dalam kasus-kasus di atas. Ketertarikan terhadap budaya atau atraksi wisata merupakan berkat dan juga kutuk dalam dunia pariwisata. Kunjungan turis yang mendatangkan devisa juga mendatangkan masalah baru dalam perilakunya terhadap tempat yang dikunjunginya. Tak ada yang salah dengan selfie, bertualang ke pegunungan dan hutan, dll. Tapi ada etika yang harus dimiliki, dan ditunjukkan kepada tuan rumah, baik pengelola wisata maupun masyarakat di sekitarnya.